Sinopsis A New Leaf Episode 4



Kim Seok Joo mondar mandir diruangannya dengan terus mencoba menghafal nama partner dari Taejeon Elektronik. Sedangkan sekretaris yang melihat dari luar sepertinya menyadari sedikit keanehan Seok Joo.






CEO Cha Young Woo terlihat khawatir dengan rapat nanti. Perwakilan dari Taejeon Elektronik sudah hadir. Rapat dimulai, sedangkan Seok Joo menatap mereka satu persatu untuk menghafal nama mereka.
CEO Cha mengunggulkan Yayasan Taean managemennya yang bagus tapi memiliki masalah keuangan. Pihak dari Taejeon electronik, Kim Jae Kyushu bertanya bukankah Seok Joo mengatakan kalau Taean tidak bisa mendapatkan dana dan uang $45 juta sudah menjadi masalah untuk mereka. Jae Kyushu meminta alasan Seok Joo dengan rencana keuangan tersebut.



Presdir Kim Do Cheol merasa kecewa dengan hasil kerja mereka padahal ia telah membayar mahal. Dia bisa saja memutuskan kontrak dan menuntut mereka karena hasil yang buruk. Mereka tak ingin kalah dari Yayasan Taean. Dan juga Kim Seok Joo, bukan orang yang mudah dalam membuat kesalahan. Dia merasa kecewa.
“Saya sudah berpikir banyak. Mengenai berapa banyak kompensasi yang anda inginkan.”
Seok Joo bertanya pada CEO Cha, apakah sebanyak itu. CEO Cha menyuruhnya melakukan saja kalau itu jalan satu-satunya.

Presdir Kim marah besar, bagaimana bisa kalian akan melakukan gugatan? Apa hanya itu yang bisa anda lakukan? Anda hanya ingin menyudahi dengan membayar $30 juta?
Seok Joo meminta maaf, mereka hanyalah manusia yang bisa melakukan kesalahan. Dalam perjanjian juga terdapat peraturan tersebut. Dan sekarang kondisinya terjadi kesalahan, mereka tak bisa bisa mengatasinya. Presdir Kim tanya apakah mereka sengaja melakukan kesalahan.
“Tentu saja tidak. Saya tidak suka melihat kerja keras sia sia dan kemudian memberi kompensasi.”
“Apa anda akan berhenti menanganinya?” tanya Presdir Kim.


Jae Kyusu mencoba menghentikan suasana ketegangan antara Seok Joo dan Presdir Kim. CEO Cha mengajak untuk mengakhiri dulu rapat kali ini. Dia akan menemukan apa yang terjadi dan menanganinya.
Presdir Kim sudah tak bisa menutupi kekesalannya, dia pergi tanpa salam.



Seseorang staff bertanya keadaan Seok Joo, apa dia baik-baik saja. Seok Joo membenarkan meskipun dari raut wajahnya dia kusut. Seok Joo permisi pergi.
CEO Cha yang mendengarkan percakapan mereka, ia menyuruh staff tadi tak usah khawatir mengenai Seok Joo.


Jae Kyusu bingung apa yang terjadi hingga CEO Cha akan membayar kompensasi. Menurut Presdir Kim,  Kemungkinan Taean mendekati mereka atau ada suatu hal yang mereka sendiri tak bisa untuk mengatasi.
“Cuti sakit selama 2 hari adalah normal tapi mereka mengumumkan saat dia tidak bisa dihubungi rasanya agak aneh.” Ucap Jae Kyusu mengenai pergerakan Seok Joo. Presdir Kim menyuruh mereka untuk menyelidiki. Pengkhianatan ataupun ketidakmampuan, keduanya masalah serius. Sangat tidak bertanggung jawab!



Seok Joo berfikir keras, bagaimana dia bisa mendapatkan angka $45 juta. Darimana angka itu ia peroleh. Saat seriusnya ia berfikir, Seok Joo melihat ke kalendernya. Pada tanggal 21 Mei terdapat tanda merah.
“Apa kau tahu ada jadwal apa tanggal 21 Mei?” tanya Seok Joo pada sekretarisnya.
Dia mengeceknya. Tak ada jadwal apapun karena Seok Joo meminta sendiri padanya agar mengosongkan jadwal. Seok Joo penasaran sendiri, apa yang ia akan lakukan tanggal 21 Mei?


Ketua Tim Kang menemui CEO Cha, dia ribut dengan kekacauan yang di buat Seok Joo dan juga tentang pemberian kompensasi.
“Apanya yang kacau?” tanya CEO Cha yang masih berkutat dengan filenya.
Ketua Tim Kang mengatakan kalau masalah utamanya adalah harga yang telah di tetapkan, $45 juta. Dia merasa kalau seharusnya Seok Joo menemui mereka untuk minta maaf dan memberikan solusi. Kalau tak berhasil maka ia harus melakukannya lagi.


CEO Cha tak sependapat, itu cara Ketua Tim Kang dan bukanlah cara Seok Joo. CEO Cha menyuruh Tim Ketua Kang untuk mencari solusi. Ketua Tim Kang akan mencoba tapi dia tak yakin bisa melakukannya. Karena bukan dia yang menentukan harganya, itu adalah Kim Seok Joo. CEO Cha menyuruh Ketua Kim untuk bekerjasama atau kalau tidak lebih baik diam.
Ketua Tim Kang hanya khawatir kalau Taejeon Elektronik menggunggat mereka yang sama artian akan mengorbankan Firma. Seperti kejadian Firma lain yang di gugat tak memiliki klien selama 3 tahun.


Seorang staff masuk keruangan CEO Cha untuk memberitahukan kalau Pengacara Kim Seok Joo pulang. CEO Cha hanya diam karena dia tahu keadaan Seok Joo namun lain dengan Ketua Tim Kang yang segera menemuinya.


Ketua Tim Kang segera keruangan Seok Joo lalu memarahinya karena kalau Seok Joo memperlakukan klien seperti itu maka dia akan dicurigai. Mungkin Seok Joo sama sekali tak berniat buruk pada Presdir Kim tapi Presdir Kim akan berfikiran buruk. Dan akan memutuskan hubungan kerja sama.
“Tidak mungkin.” Ucap Seok Joo.
“Kau pikir, apa yang mereka pikirkan?”


Ponsel Ji Yoon berdering, Ayah Seok Joo lah yang menghubunginya karena ada panggilan tak terjawab dari Ji Yoon. Ji Yoon tanya apakah dia adalah ayah Seok Joo. Ayah Seok Joo membenarkan. Ji Yoon memberikan alasan kalau Seok Joo kehilangan ponselnya jadi dia yang menghubungi ayah. Dia akan menyuruh Seok Joo nanti untuk menghubungi ayah. Ayah merasa aneh, Seok Joo biasanya tak pernah menghubungi. Apa yang terjadi?
“Saya rasa saya tidak berhak mengatakan. Saya akan memintanya segera menghubungi anda.”


Panggilan berakhir. Bibi yang sedang bersih-bersih bertanya apakah Seok Joo menghubunginya. Ayah mengangguk. Bibi rasa Seok Joo khawatir karena Ayah sakit jadi menghubunginya. Ayah sama sekali tak berfikir seperti itu, dia merasakan hal yang aneh.
Seseorang tak akan mudah berubah.Dalam artian, Seok Joo yang keras kepala, dan seolah sangat tak perduli padanya. Dengan tanpa alasan menghubungi seperti suatu hal yang mustahil.



Ji Yoon menemui Seok Joo tapi ternyata dia masih mendapatkan ceramah dari Ketua Tim Kang. Ketua Tim Kang mengatakan kalau tim pengacara yang bekerja untuk TaeJon sangat banyak. Bagaimana kalau mereka berhenti memberikan mereka pekerjanaan?
“Akan menjadi sebuah pukulan besar.”
Bukan hanya sebuah pukulan besar. CEO Cha sudah meminta maaf dan mengatakan kalau Seok Joo sakit tapi nyaris tak berguna. Apalagi setelah Seok Joo menyinggung ganti rugi. Mereka akan berfikir kalau Seok Joo menerima suap dari Taean. Ketua Tim Kang menyuruh Seok Joo meminta maaf. Ini bukanlah masalah sederhana dan berurusan dengan managemen!

Seolah mendapatkan pencerahan, Seok Joo tersenyum senang. Dia penasaran kesalahan apa yang membutuhkan ganti rugi.
Ketua Tim Kang mengernyit tak mengerti. Dia menyuruh Seok Joo untuk segera mencari solusi dan lakukan yang terbaik. Walaupun mungkin tak berhasil tapi Seok Joo harus menunjukkan kalau dia usaha. Seok Joo mengerti. Dia berterimakasih atas nasehat Ketua Tim Kang.



Ketua Tim Kang meninggalkan ruangan. Semua karyawan yang sedang menguping pembicaraan mereka segera beralih dengan pekerjaan masing-masing.
Ji Yoon memberitahukan pada Seok Joo kalau ayah Seok Joo menghubunginya. Seok Joo tanya apakah dia dirumah. Ji Yoo tadi gak tanya tapi sepertinya iya.
“Oiya. Kau hanya karyawan magang.” Seolah mengejek Ji Yoon yang tak mengerti apa-apa.
Seok Joo tanya orang seperti apa ayahnya itu. Ji Yoon rasa dia orang yang logis dan tenang sepertinya Ayah Seok Joo adalah pengacara terkenal Pengacara hak asasi manusia. Dia hakim dan politisi juga.
“Bahkan karyawan magang tahu siapa dia.” Balas Ji Yoon.


Ji Yoon menunjuk ponselnya. Apa dia perlu menghubungi Ayah Seok Joo. Seok Joo bingung, apa yang akan dia tanyakan pada ayah. Mungkinkah Aku anakmu. Boleh aku datang berkunjung?
Ji Yoon mengatakan kalau dia akan bertanya dulu lalu menentukan waktu yang tepat untuk berkunjung.
“Pengacara hak asasi manusia.…” gumam Seok Joo memikirkan ucapan Ji Yoon.
“Aku tahu. Aku juga terkejut. Kau sangat berbeda dari ayahmu.” Ji Yoon keceplosan. Seok Joo tanya apa maksud Ji Yoon. Dia bingung menjelaskan ucapannya. Seok Joo benar-benar penasaran, dia hanya ingin tahu.


Sang Tae datang sebelum Ji Yoon menjawab pertanyaan Seok Joo. Sang Tae menanyakan keadaan Seok Joo.
“Baik pak.” Jawab Seok Joo. Ji Yoon komat-kamit memberitahu kalau Sang Tae bukanlah atasan. Seok Joo masih belum mengerti. Sang Tae sendiri malah senang karena Seok Joo sudah lebih menghormatinya. Seluruh Firma sedang panik tapi Seok Joo terlihat tenang.
“teman....teman....” Ji Yoon mencoba memperingatkan Seok Joo.



“Aku akan mengurusnya Pak.” Ucap Seok Joo masih formal. Sebelum semakin banyak ucapan yang salah dan tak nyambung. Seok Joo pamit pergi. Ji Yoon menawarkan untuk mengatarnya tapi dia menolak.
“Ada apa dengan kalian dan suasananya?”
Seok Joo bertanya pada Ji Yoon, dimana dia parkir. B2, jawab Sang Tae aneh.
“Thank You” ucap Seok Joo. Daripada ia salah dalam menggunakan ucapan formal atau tidak Seok Joo mengucapkan dalam bahasa inggris. Sang Tae masih merasa aneh dengan sikap dan cara Seok Joo bicara padanya. Hahaha.


Seok Joo pergi. Ji Yoon menanyakan pada Sang Tae. Apakah pengacara Kim Seok Joo punya teman lain di sini?
Sang Tae terdiam. Sepertinya masih aneh memikirkan sikap Seok Joo dan Ji Yoon.


Meskipun tadi kesulitan dalam mencari mobil, Seok Joo bisa menemukannya. Dia telah sampai kesuatu tempat. Seok Joo mengusap celananya yang banyak terdapat bulu, dia melihat ke jok belakang juga banya bulu anjing yang tertinggal.
“Apakah aku memiliki anjing?”


Seok Joo mendapatkan tes untuk mengecek kesehatannya. Seperti tes IQ itu loh. Karena intelegensi Seok Joo yang tinggi dengan mudahnya ia menjawab soal satu persatu dengan sangat cepat. Benar. Santai.


“Anda mengalami pendarahan dalam. Kami menggunakan obat untuk mencegah meningkatnya tekanan dalam kepala anda namun karena anda tidak ditemukan semalaman Beberapa bagian sudah menerima tekanan. Apa anda ingat sesuatu di tempat kerja?”
Seok Joo merasa kalau semuanya terasa asing tetapi ketika ia menghadapi dokumen. Ia bisa mengerti dengan memahami judulnya. Dokter yakin kalau Seok Joo memiliki persepsi yang tinggi meskipun hilang ingatan. Dia percaya Seok Joo akan mendapatkan kembali ingatannya walaupun tak tahu kapan itu.


“Apa kau merasa tak nyaman? Apa yang paling tidak nyaman?”
Seok Joo merasa ada sesuatu yang harus ia selesaikan sebelum hilang ingatan. Seperti mengerjakan teka-taki. Banyak uang yang dipertaruhkan hingga ia merasa sangat stress. Dan rekan kerjanya menghubungi ayahnya namun sangat sulit untuk mengatakan kalau ia hilang ingatan.



“Apa anda mengingat sesuatu tentang ayah anda? Mungkin yang sudah lama sekali?”
Seok Joo kecil duduk di teras, banyak orang yang ada disana. Terlihat tanah yang tertinggal di lantai. Seok Joo hanya mengingat sebuah kursi dan tanah tersebut. Ayah memeluknya. Dia sendiri tak yakin entah itu perasaan atau sebuah ingatan.
“Entah nyata atau tidak, penting atau tidak. Pada saat itu bagaimana dia memperlakukanmu adalah apa yang kau rasakan. Katakan saja apa yang ada di pikiranmu. Kursi kosong adalah yang pertama kau ingat? Ada lagi?”
Tak ada lagi yang Seok Joo ingat tapi ada sesuatu yang ia temukan. Tempat makan anjing dan juga bulu anjing dalam mobilnya. Padahal mobilnya di cuci secara teratur. Mungkin dia memiliki anjing untuk waktu yang belum lama. Dokter menyuruh Seok Joo untuk mengingatnya. Dan juga untuk memberitahukan kalau ia mengalami sakit kepala. Jangan diabaikan.


Ji Yoon menemui Mi Ri di sebuah restaurant. Mi Ri memberikan Ji Yoon sebuah gaun dan memujinya yang sudah seperti pengacara sungguhan. Ji Yoon tersenyum malu tapi dia hanya magang.
“Bagaimana kalian bisa putus? Kenapa pria itu datang ke pernikahanmu?” Ji Yoon penasaran dengan hubungan Mi Ri dan Seok Joo.
Mi Ri mengaku kalau dia tak pacaran dengan Seok Joo karena ia tak menyukai pria yang tidak peka. Ji Yoon terkejut, tidak pacaran. Lalu apa hubungan kalian?
“Aku baru saja menikah. Kenapa kau mengingatkanku pada mimpi buruk itu?”


Ji Yoon mengerti. Mi Ri tanya bagaimana pendapat Ji Yoon mengenai pria yang dia tunjukan, Jeon Ji Won. Ji Yoon langsung tersipu, dia berbicara mengenai takdir dengannya dan juga ia mengutip sebuah kalimat dari buku. Mi Ri merasa kalau seperti itu berarti dia playboy. Ji Yoon jelas membela pria pujaannya. Tidak! Dia sopan. Cerdas. Dan juga, dia baru saja pindah ke daerahku.
“Dia teman suamimu?”
Mi Ri tidak terlalu tahu pokoknya dia kerabat jauh. Mi Ri mengajak Ji Yoon untuk double date. Dia akan membuat seolah mereka tak sengaja bertemu. Bagaimana kalau akhir pekan?


Ji Yoon tersenyum senang namun sepersekian detik langsung berubah suram. Tidak, aku tidak pantas untuknya. ____ Entah apa yang Ji Yoon katakan, mereka sepertinya bercerita tentang Seok Joo.
“Kau membencinya?” tanya Mi Ri.
Ji Yoon tak membenci Seok Joo ataupun menyukainya. Dia merasa kasihan tapi tak suka sikapnya dalam memanfaatkan yang lemah. Tapi sebuah kecelakaan membuat ia lupa ingatan. Mi Ri menyarankan agar Ji Yoon membantu Seok Joo dalam beberapa bulan dan segera minta perjanjian agar ia bisa bekerja tetap. Ji Yoon sendiri merasa kalau dia tak terlalu cocok dengan Firma tersebut.
“Pengemis tidak bisa jadi pemilih.” Canda Mi Ri.


Ji Yoon mengantarkan Mi Ri mencari taksi. Dia juga menunjukkan rumah Ji Won yang begitu dekat dengannya. Mi Ri menyuruhnya menggunakan cream ketika membuang sampah, agar Ji Won melihat Ji Yoon dalam keadaan cantik pastinya. Kekeke. Mi Ri sudah mendapat jemputan taksi.
“Buat perjanjiannya besok, mengerti?” pesan Mi Ri.



Ji Yoon keluar dari toko sambil memakan dendeng sapi. Tak sadar ternyata Ji Won ada dibelakangnya lalu menyapa Ji Yoon. Ji Yoon sigap menyembunyikan dendeng di balik punggung tapi Ji Won sudah tahu. Dia beralasan kalau dia membelinya untuk di berikan pada kucing di pinggir jalan. Ji Yoon melempar sebuah dendengnya ke tepi jalan.
Ji Yoon lalu memuji Ji Won sebagai tetangga yang ramah. Mereka berdua berpisah, Ji Yoon menatapnya dengan tersipu malu. Senang juga. Setelahnya dia kembali makan dendeng sapi yang dia beli tadi. Apa yang salah dengan dendeng sapi di korea? Ada yang tahu?



Seok Joo mencoba membuka laptopnya tetapi selalu saja salah dalam memasukkan kode. Dia memutuskan untuk pergi kekantor. Dia mencoba membuka laptopnya juga tapi sandinya masih saja terus-terusan salah.

Pagi buta, Ji Yoon berangkat kekantor. Belum ada seorang pun kecuali Seok Joo yang sudah mulai berkutat dengan dokumen-dokumennya.




Ji Yoon memberitahu Seok Joo kalau Sang Tae mungkin adalah teman baik Seok Joo karena hanya dialah yang sering ngobrol denganny. Seok Joo menilai Sang Tae sebagai orang yang mirip Ji Yoon. Bermaksud baik tapi ceroboh dan bodoh.
Ji Yoon mengatakan kalau ia akan berbicara dengannya. Siapa tahu akan membantu Seok Joo mengembalikan ingatan. Seok Joo menyuruh Ji Yoon untuk mendapat informasi jadwalnya. Ji Yoon mengerti. Ia akan mecari siapa-siapa saja yang bertemu dengan Seok Joo juga.


“Kenapa kau berangkat begitu pagi?” tanya Seok Joo.
Karena Seok Joo datang pagi juga. Dia akan membantu Seok Joo untuk sementara waktu.
Seok Joo tengah membaca dokumen tentang dasar perhitungan harga. Nilainya bergantung pada apakah dana tersebut tunai atau pinjaman. Jika kau seorang hakim apa menurutmu seseorang dengan pinjaman akan bisa melakukan dengan baik? Dia harus segera melunasi pinjaman dengan bunga tinggi. Apa kau tahu kenapa konglomerat ribut masalah hak manajemen?
Ji Yoon angkat tangan, dia tak tahu karena dia hanyalah karyawan magang. Seok Joo menjelaskan kalau jika mempunyai asetnya maka dia bisa menjualnya atau bisa dikatakan di uangkan. Lalu memecat dewan direksi dan membuat dewan direksi boneka. Jika membeli perusahaan dengan pinjaman dan kemudian menjualnya, berapa nilainya?
Tidak ada, jawab Ji Yoon.
“Itu sebabnya pinjaman dan tunai tidak sama nilainya. Jadi jika kita temukan mereka menggunakan pinjaman maka ada 0.8 poin perbedaan. Kita merubahnya. Setelah perusahaan terjual pemerintah akan melakukan pemeriksaan.”
Tarik nafas dalam-dalam buat menjelaskan ini. Gak di jelasin takut penting, di jelasin panjang subhanallah. Padahal si sebenernya agak bingung sendiri. Usap keringet. Hehe.


Seok Joo menatap ke seluruh penjuru ruangan, Ji Yoon bertanya apakah Seok Joo mengingat sesuatu. Seok Joo merasa kalau dia tidak sengaja menyalah artikan dan mengajukan harga tersebut.
“Kau bisa beradaptasi dengan lingkungan di sini?” tanya Seok Joo.
Ji Yoon awalnya merasa aneh karena baru 3 minggu. Mungkin nanti ia akan terbiasa.



Petugas keamanan tengah memantau dari CCTV. Dia menemukan sebuah kejanggalan. Dan menyuruh petugas lainnya untuk mengecek laju data.
Diruangannya ternyata Seok Joo tengah mengopi data-data. Ji Yoon memperhatikan dari kejauhan. Dia mengkwatirkan Seok Joo. Mengeluh dengannya yang tak di pecat setelah lupa ingatan bahkan bisa membayar biaya rumah sakit sendiri. Ji Yoon meyakinkan agar tak usah mengkhawatirkannya. Iblis jenius. Jezzz.


Ketua Tim Kang melapor kalau Seok Joo mengunduh data mengenai apa yang ia kerjakan dan mengenai kasus Taejon. Lebih dari seratus data yang dia bisa akses. Petugas keamanan mengatakan kalau biasanya karyawan melakukan hal tersebut saat akan keluar. CEO Cha menyuruh petugas itu pergi.
“Bagaimana kalau Seok Joo menerima suap dari Taean?” Ketua Tim Kang khawatir.
CEO Cha tau apa yang ia lakukan dan apa yang Seok Joo tengah lakukan. Tak akan terjadi.


Seok Joo memiliki banyak janji. Mulai dari Jepang. Swiss. Dan juga Dia bermalam di hotel dekat distrik keuangan. Ji Yoon menggali informasi sebanyak mungkin.
“Apa kau butuh nama-namanya? Dan kau butuh semua informasi dari beberapa tahun lalu?” tanya sekretasi Seok Joo merasa curiga.
Seok Joo keluar dari ruangannya, menyuruh memberikan semua informasi yang ditanyakan Ji Yoon. Apapun termasuk mengenai Taejon. Sekreratisnya meng-iya-kan.


CEO Cha memanggil Ji Yoon. Ia menanyakan tentang perkembangan Seok Joo. Ji Yoon memberitahukan kalau ingatan Seok Joo belum kembali tapi dia bisa mengatasi pekerjaanya.
“Dia biasanya tidak suka bercanda tapi sekarang dia begitu. Apa alasannya?”
Ji Yoon akan mencari tahu semuanya mengenai itu dan juga alasan Seok Joo lupa ingatan. CEO Cha tengah membutuhkan bukti yang kuat.




Semua orang dalam ruang rapat menatap Ji Yoon aneh. Bagaimana seorang pekerja magang bisa ikut dalam rapat penting? Mungkin itulah yang menjadi pertanyaan dalam benak mereka. Ji Yoon menjadi sedikit canggung.
Seok Joo mengatakan kalau sepertinya terjadi kesalahan analisis. Ketua Tim Kang meminta penjelasan mengenai hasilnya.
Itulah yang perlu mereka cari. Data Badan Pengawas Keuangan pengadaan perbedaan hutang dan batas kucuran dana dianalisa dengan seksama. Bagaimanapun dana tambahan harus mengalir masuk. Anggapan-anggapan, Kita harus mulai dari sana untuk membuktikannya.
“Ada solusinya?” tanya CEO Cha.


“Tolong beri kami waktu. Menandatangani perjanjian akan membalik segalanya. Rion Funds, pemegang saham terbesar Bank Nasional mencoba untuk menjual Bank Nasional pada Perusahaan Sunmoon Financial. Jika masalah Taejin berkepanjangan merekalah yang paling diuntungkan. Tidak ada alasan bagi mereka untuk mempermudah kita. Mereka akan menandatangani MoU dalam 4 hari.” *Mou dokumen legal yang menjelaskan persetujuan antara dua belah pihak.
“Apa anda mendengar sesuatu?” tanya Kyushu.
Seok Joo melihat dari siatusinya, dia pernah bekerja di Rion Funds. Dalam 4 hari mereka harus bisa mencari cara mengatasinya. Bank pemerintah sepertinya tak bertanggung jawab pada masalah ini maka mereka harus fokus pada pemeriksaan singkat dan menekan para akuntan untuk bekerja dengan baik.


“Aku akan menghubungi ketua komite keuangan. Aku juga akan menemui kepala Bank Nasional. Apa mereka benar-benar akan menandatanganinya secepat itu?” tanya Presdir Kim.
Maksimal 4 hari atau bahkan dalam 24 jam. Seok Joo berspekulasi. Seok Joo memikirkan beberapa hal, akan semakin sulit kalau sampai MoU sudah di tanda tangani maka akan lebih baik mencegahnya. Atau mereka akan mengecek jumah yang ditawarkan Taean.
“Butuh otorisasi untuk mengetahuinya.” Ucap Ketua Tim Kang.
“Seperti yang saya analisa mereka tidak punya kemampuan untuk mengucurkan $210 juta. Meski jika mereka mendapat pinjaman dengan saham sebagai jaminannya tidak mungkin mencapai $450 juta. Jika lebih tinggi, mereka akan harus menyerahkan hak manajemen. Jika mereka mengalahkan $510 juta Taejon dana tidak transparan pasti terlibat. Itu yang perlu kita cari tahu. Pasti setidaknya $60juta. Jika kita menemukan jumlah tersebut kita bisa menyerang mereka.”




Ketua Tim Kang merasa kalau hal itu pasti sulit. Seok Joo menyuruh untuk jangan cepat menyerah.
“Kreditur utama adalah Bank Shinhan dan Bank Nasional. Saya akan bertemu dengan mereka hari ini.” Ucap presdir Kim. Presdir Kim mencoba menghubungi bank nasional tapi mereka menghindar dengan alasan meeting. Kyushu merasa kalau itu terlihat buruk.
Presdir Kim menyudahi rapat, dia memilih akan menemuinya secara langsung.


Staff melapor kalau Presdir Kim membuat perjalanan yang sia-sia karena kepala bank nasional menghindar dan meninggalkan bank. Seok Joo memerintahkan untuk menemukan keberadaanya dan meminta Taejon mencari juga. Staff mengerti.


“Aku berbicara dengan kepala Bank Shinhan. Jangan percayakan MoU pada staf bisnis. Kepala harus memeriksa rinciannya dan menandatanganinya. Dia bilang dia akan menundanya selama 3 hari. Tidak apa-apa?” ucap seseorang pada CEO Cha.
CEO Cha berterima kasih, itu juga sudah cukup. Orang tadi bertanya bagaimana dengan anaknya, apa dia bekerja dengan baik. CEO Cha membenarkan. Dia anak yag pintar dan bertalenta.

CEO Cha menghubungi seseorang untuk memberitahu kalau Shinhan akan menunda penandatanganan MoU selama 3 hari.
Ponsel CEO Cha kembali berdering. Orang tadi kembali menghubungi CEO Cha untuk memberitahukan kalau Ketua Komite Keuangan tidak bisa dihubungi selama 3 jam.


CEO Cha menemui Seok Joo di ruang rapat. Ia memberitahukan kalau Ketua Bank Nasional tak bisa dihubungi juga. Sepertinya Bank Nasional mencoba untuk menandatanganinya sendiri.
“Tidak bisa dihubungi? Taean pasti menekan mereka.”
CEO Cha merasa Kreditur akan dituntut jika semua hancur karena tidak cepat.


Berita mengenai Taejon yang telah menandatangi MoU secara diam-diam sudah masuk berita.
Seok Joo memerintah kan untuk menyiapkan gugatan keputusan perjanjian kerja. 4 hari pencatatan. 4 hari serangan balik.
“Kasus perdata 50...” Seok Joo terdiam ragu.
Staff berkacamata mengatakan kalau Seok Joo pasti dalam keadaan stess, tak biasanya dia ragu. CEO Cha segera mengambil alih, dia memerintahkan agar mencari pengacara yang dekat dengan hakim Kim.


Semua staf meninggalakan ruang rapat. Seok Joo berjalan lemas. Entah apa yang ada dalam benaknya. CEO Cha menatap Seok Joo.


Seok Joo bicara 4 mata dengan CEO Cha. Seok Joo ternyata merasa bersalah karena kalau mereka berakhir kalah akan menjadi kekalahan yang besar meskipun tak mengganti rugi tapi berimbas pada pekerjaan. CEO Cha sama sekali tak menyalahkan Seok Joo dengan kecelakaan ini.
“Meski setelah permintaan maaf pekerjaan akan agak sepi. Aku benar-benar tidak menghubungi Taean sebelumnya? Aku tidak tahu keributannya saat aku tidak bisa dihubungi. Rasa gugup dan cemas, Seperti itu rasanya tidak bisa menghubungi seseorang.”
Seok Joo sudah banyak bekerja dengan Taejon dan juga mengenal karyawan Taean. Seok Joo mengulang pertanyaanya, Kau yakin aku tidak menghubungi mereka?


CEO Cha meng-iya-kan. Seok Joo terlihat mulai berkurang bebannya. Dia akan keluar setelah menyelesaikan kasus ini. Akan sulit bekerja dengan orang cacat sepertinya. CEO Cha akan meminta Seok Joo kembali ketika ia kembali ingatannya. Seok Joo tak terlalu yakin, dia pergi tapi sebelumnya ia bertanya. Mungkinkah semuanya berbeda kalau dia tak lupa ingatan.
“Ya. Kau adalah pengacara utama di sini.”


Karyawan Kim Jeong Wook melaporkan kalau menemukan kepala Bank Nasional ada di Yangho CC. Seok Joo segera mengajukan diri untuk menemui Kepala Bank Nasional. Ji Yoon yang mendengar bergegas mengikutinya.


Dalam perjalanan, Ji Yoon menjelaskan kalau Seok Joo sudah bekerja dengan Taejon sejak tahun 1998 dan sering melakukan perjalanan bisnis ke swiss dan prancis.
“Swiss....” gumam Seok Joo. Seok Joo menyuruh untuk mencari info lainnya. Ji Yoon memiliki daftar yang di temui Seok Joo. Seok Joo menyuruh memeriksa jam dan menghubungi mereka. Ji Yoon tak bingung tak bisa bahasa prancis dan lagi Seok Joo bilang bahasa inggrisnya payah.
Seok Joo menggeleng pasrah. Dalam hatinya pasti ngedumel, ‘Oiyaa, dia kan Cuma karyawan magang’

Seok Joo akhirnya menghubungi sendiri mr. Edward Steron. Edward mengatakan kalau dia telah mengirimkan uang dan sudah di pindahkan kerekening yang mereka berdua bicarakan.
“Beritahu aku jika ada pekerjaan bagus lagi. Beritahu aku jika kondisi escrow sudah terpenuhi.” Ucap Mr. Edward. *escrow : perjanjian legal dimana barang disimpan seorang pihak ketiga sementara menunggu isi kontrak dipenuhi



Seok Joo menyudahi perbincangannya setelah melihat Kepala Bank Nasional keluar. Seok Joo menyapanya, salah seorang bertanya apa yang Seok Joo lakukan. Seok Joo berkata kalau dia melihat berita mengenai MoU. Orang itu meremehkan Seok Joo. Anda akan melawan balik dengan gugatan. Akan saya tunggu.
Seok Joo hanya ingin tahu apakah itu pinjaman. Mereka menolak untuk memberitahu karena hukum melarangnya.
“Bank Paris.”
Mereka berdua langsung ngacir. Seok Joo tersenyum menemukan sebuat titik lemah.


Berita sudah menyebar mengenai uang Taean yang mendapatkan pinjaman. Dan mengenai sikap kepura-puraan Bank Nasional yang telah mendapatkan MoU hingga menutupi mengenai pinjaman tersebut.


Pesta kemenangan dilaksanakan. Presdir Kim meminta maaf karena mencurigai Seok Joo. Dia tak masalah dan akan segera melakukan cuti.
“Ahhh! Kami punya banyak pengacara kompeten lainnya.” Sela CEO Cha mencegah ucapan Seok Joo yang lebih panjang.
Presdir Kim menyuruh CEO Cha jangan memforsir Seok Joo atau kejadian seperti ini akan terulang kembali. Dia akan mengandalkan Seok Joo kedepannya.


Seok Joo meninggalkan mereka berdua. CEO Cha mengucapakan terimakasih juga atas kerja keras Ji Yoon. Dia menyuruhnya agar menjaga Seok Joo.


Presdir Kim menemui Seok Joo diluar. Dia tahu kalau masalahnya terdapat pada pinjaman namun sebenarnya dana rahasia. Seok Joo telah menyelamatkan dana rahasia ayah presdir Kim. Sekali lagi Presdir Kim mengucapkan rasa terimakasihnya.


Seok Joo menyerahkan surat pengunduran diri yang telah ia persiapkan. Dia berterimakasih atas bantuan CEO Cha. CEO Cha mengatakan kalau itulah tugasnya membantu Seok Joo meringankan pekerjaan.
“Aku butuh istirahat.” Ucap Seok Joo.
“Kau butuh perawatan.”
“Bagaimana dengan semua klienmu?”
“Ada pengacara lainnya.”
CEO Cha mengatakan kalau dia akan memberikan pekerjaan yang ringan untuk Seok Joo. CEO Cha mengembalikan surat Seok Joo. Sekarang, dia dilanda kebimbangan.

Seok Joo mendapatkan panggilan dari kantor polisi. Ji Yoon mengikutinya dengan hanya mengenakan dress lengan pendek. Seok Joo agak peka sekarang, dia segera melepas jasnya dan mengenakannya pada Ji Yoon.



“Kami menelepon mengenai kecelakaan anda. Kami memeriksa CCTV di daerah itu juga. Tidak ada bukti tapi bisa jadi karena dendam. Tapi kau pengacara jadi mungkin. Saya dengar dari perusahaan anda bahwa mungkin seseorang dari Komite Ekonomi. Mereka meminta kami untuk menyelidikinya juga.” Jelas petugas.
Ji Yoon menawarkan kalau dia akan menyediakan daftar orang yang di komite ekonomi.



Seok Joo dan Ji Yoon berjalan pulang. Ji Yoon terkejut melihat kehadiran seseorang. Dia Jung Hye Ryeong.
Seok Joo melihat Hye Ryeng tak tahu apa-apa, dan menatap Ji Yoon heran.




Hye Ryeong melihat Seok Joo. Kemarahannya tiba-tiba muncul. Dia mencoba memberontak saat polisi menahannya untuk menyerang Seok Joo. Seok Joo hanya menatap bingung.
Tak bisa menyerang, Hye Ryeong pun meludahi Seok Joo. Seok Joo sama sekali tak bereaksi, dia bingung pastinya.

***

Note : inilah kenapa yang buat aku dari kemarin belum sempet-sempet buat sinopnya. Banyak banget percakapannya. Hehe. Mana gak tahu menahu soal bisnis. Untung aja Seok Joo udah mau keluar. Okeh. Setuju banget deh gue, biar gak usah ngurusin hal yang ribet-ribet. #uh dasar puji mau enaknya sendiri. Hehehe
Kenapa yah yang buat aku penasaran malah mungkin hal yang gak terlalu penting deh kayaknya. Apa sih hubungan Mi Ri sama Seok Joo? Kenapa dia begitu terkejut saat Seok Joo datang ke pestanya? Tapi tadi ditanya katanya mereka gak pacaran. Apa coba?
dan lagi yang buat aku penasaran, kok bagian aku gak pernah ketemu scene Minhyuk sih? Mau dong sekali-kali liat orang cakep lewat. hehe

12 Responses to "Sinopsis A New Leaf Episode 4"

  1. Ekonomi manajemen "rrruuuweeet"....huuuufffttt....makasih mbak puji sinopx....

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya setuju ruweet. haha. sama-sama mba^^ di tunggu terus komenannya okeh. ^^

      Delete
  2. Terima kasih Puji...
    Kasihan Puji belum ketemu Minhyuk... cup-cup-cup... hhii
    Kayaknya minggu depan yg ketemu MInhyuk aku lagi dah... hhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. seeriusan? mewek again. gak papa ding, aku gandeng ahjussi Ji Won aja.

      Delete
    2. Kemungkinan begitu kalau dilihat dari previewnya.. hihihi..
      Berpaling ke Ji Won nih Puji???

      Delete
  3. gomawo Puji...udah pos full lagi...
    Seok Joo emang butuh prawatn...masak abis sakit langsung kerja...kasian juga jadi orang pinter n dibutuhkan....


    Kim Ofie

    ReplyDelete
  4. Cukup terbantu..karena episode 4 saya delete pdahal belum ditonton..
    lupanya paraah..hahaha^^

    ReplyDelete
  5. Sis klo mw donlot dmn sih drama nya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamu bisa ke inblogspot sis, cari deh. ato gak ke dramacool. gooddrama.

      Delete
    2. Aku biasa nonton di http://nonton.filmkorean.com bisa nonton via HP android

      Delete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^