Sinopsis Unemployed Romance Episode 8-1





[Skandal Pemeriksaan Pengangguran Bagian 2]
Yeon-woo memandang Seung-hee dan Jong-dae dengan curiga, Jong-dae mencoba menjelaskan kalau mereka sudah lama putus dan bukankah Yeon-woo juga melihat bagaimana mereka bertengkar. Seung-hee membenarkan. Yeon-woo masih cemberut, bukankah bertengkar itu tanda kalau kalian masih saling memiliki perasaan? Kalian tak akan bertengkar seperti itu kalau tidak memiliki perasaan.
Jong-dae mengatakan kalau dia sudah tak memiliki perasaan. Seung-hee setuju lalu menyalahkan Jong-dae karena dia memulai pertengkaran dulu lagian Yeon-woo dan Jong-dae masih bisa saling mencintai. Yeon-woo masih sedih, bagaimanapun mereka berdua adalah cinta pertama.
“Bagaimanapun apa bagusnya cinta pertama? Kalian tidak tahu apa-apa karena itu kalian berkencan karena kalian begitu bodoh. Kalian masih muda, Dan itu pertama kalinya buat kalian. Kalian berkencan tanpa tahu kalau kalian tidak cocok. Kalau seperti sekarang, Kalian tidak akan mau berkencan dengan cinta pertama kalian. Cinta pertama hanya terdengar bagus. Cinta pertama hanya sebuah kesalahan.” Jelas seung-hee. Jong-dae tertunduk mendengar perkataan Seung-hee. Seung-hee meliriknya dan mereka saling berpandangan benci satu sama lain.




Jong-dae mengantar Yeon-woo seperti biasa, Yeon-woo tidak marah pada Jong-dae hanya saja dia kecewa Jong-dae tidak mengatakan rahasianya. Yeon-woo meminta agar Jong-dae selalu mengatakan rahasianya pada Yeon-woo. Jong-dae meminta maaf dan meng-iya-kan permintaan Yeon-woo.
Yeon-woo tersenyum cerah, dia mengangkat kantong yang dibawanya. Hadiah untuk Jong-dae. Jong-dae melihat kantong itu, ternyata adalah mantel tebal.




Jong-dae sudah mengenakan mantelnya, dia terlihat sangat tidak nyaman. Jong-dae bertanya apakah Yeon-woo membuat mantel itu sendiri. Yeon-woo membenarkan, dia membuatnya dirumah karena merasa kemampuannya semakin menurun. Jong-dae memuji Yeon-woo yang berbakat bahkan perusahaannya tak tau itu.
“Tapi apa kau tidak enak badan, Jong Dae?” tanya Yeon-woo karena melihat Jong-dae berjalan dengan kelelahan. Jong-dae mengelak, dia baik-baik saja.
Astaga, kenapa mantel ini begitu berat? Maaf... tapi aku merasa aku tahu kenapa aku tidak menyukaimu sekarang. Batin Jong-dae. Yeon-woo merasa kalau Jong-dae sangat cocok dengan mantelnya, maukah kau mengenakannya setiap hari?
Jong-dae melengos bingung, menolak tidak enak kalau pun menggunakannya dia akan tersiksa.
~~~



Ayah Jong-dae tengah berdiri di depan gerbang sambil menyapa orang yang datang.
Ibu tengah menghubungi Jong-dae, dia sangat senang karena ayah telah diterima kerja menjadi penjaga apartement. Ibu senang karena dia tak harus melihat ayah setiap hari. Jong-dae bertanya bagaimana dengan toko makanan ringannya?
Ibu ternyata sedang sibuk melayani pelanggan, sambil bekerja dan masih bisa sempat-sempatnya menelfon. Ibu malah merasa nyaman Ayah tak ada, karena itu dia merasa sebuah kebebasan.



Suami Kyung tengah sibuk menyiapkan masakan untuk menyambut Wan-ha, dia kewalahan karena harus memasak beberapa hidangan tapi Kyung-hee masih belum keluar membantunya dengan alasan sedang mengganti baju. Aku akan segera keluar, jawab Kyung-hee. Suami Kyung-hee merasa kalau istrinya mengatakan seperti itu dari tadi. Dia pun mematikan kompor dan melihat istrinya di kamar.


Seung-hee dan Wan-ha sampai di rumah Kyung-hee, Seung-hee senang melihat makanan sudah siap di meja makan.
“Apa? Kau bahkan belum memasang bramu. Kenapa kau bilang kau sudah berpakaian?” tanya suami Seung-hee didalam kamar.
“Aku tidak bisa mencoba bajunya jika aku memakai bra-ku. Omo! Jangan menyentuhnya! Aku akan segera berpakaian. Sayang, bisakah kau mengaitkannya?” pinta Kyung-hee. Wan-ha dan Seung-hee mendengar percakapan mereka. Wan-ha tak enak jadi berdehem sedangkan Seung-hee langsung kesal.






Suami Kyung-hee menghidangkan makanan, Seung-hee senang dan Wan-ha merasa senang dengan sambutan itu. Kyung-hee menyuruh anaknya untuk makan tapi kemudian memberi tanda dengan mengusap hidungnya. Anak Kyung-hee yang besar langsung mengerti dan menyentuh lengan adik kecilnya.
Anak Kyung-hee langsung berlari kearah Wan-ha dan mencium pipinya, paman..
Seung-hee heran, kenapa dia melakukan itu. Kyung-hee berpura-pura menegur anaknya, kenapa kau duduk disana di tengah-tengah makan malam. Anak Kyung-hee yang besar salah menafsirkan, dia tanya apakah sekarang belum waktunya.
“Siapa bilang untuk duduk di sana sekarang?” tanya Kyung-hee.
“Tidak apa-apa. Dia hanya duduk di pangkuanku sebentar.” Wan-ha tak keberatan.



Seung-hee menyadari ada yang aneh dengan semua orang. Kyung-hee sekarang menepuk lengan suaminya, dia mengerti lalu tertawa. “Adik ipar-ku cukup cantik, kan?”
Wan-ha memuji kalau Seung-hee cantik dan juga imut. Suami Seung-hee tahu hal itu, dia seperti anak anjing.
“Benar? Seperti anak anjing! Wanita harus punya sisi anak anjing yang lucu, dan sisi seksi seperti kucing. Seung Hee seperti anak anjing yang lucu Dan aku seperti Seekor kucing Meow.” Ucap Kyung-hee. Seung-hee menyuruh kakanya menghentikan semua itu dengan isyarat, tapi dasar Kyung-hee dia tetap dengan rencananya. Suami Kyung-hee menimpali kalau Kyung-hee tak seperti kucing tapi kuda. Hahaha. Kyung-hee kesal dan memukul ringan suaminya.



Seung-hee terus memegangi perutnya yang sakit, dia mencoba menelfon kakanya tapi tak diangkat dan mereka pergi dengan alasan membelikan anak-anak makanan ringan. Wan-ha khawatir, apa Seung-hee baik-baik saja. Seung-hee jujur, dia tau sepertinya gangguan pencernaan ini akibat ulah kakanya dan lagi Suami Kyung-hee bertingkah aneh. Wan-ha akan membelikan Wan-ha obat, tapi Seung-hee menahan karena Wan-ha tak tau jalan disana apalagi sekarang sudah malam pasti apotek sudah tutup.
“Tidak, aku harus pergi melihatnya. Tunggu di sini.” Wan-ha tetap pergi.
Selepas kepergian Wan-ha, Seung-hee tersenyum karena perhatian Wan-ha padanya.




Wan-ha mencari apotek, melewati sebuah minimarket.
Setelah Wan-ha pergi, Kyung-hee dan keluarganya keluar dari minimarket tersebut. Anak Kyung-hee mengatakan kalau dia kedinginan jadi ingin pulang. Tapi Kyung-hee melarang, karena dengan mereka pergi maka bibinya bisa menikah. Suami Kyung-hee tanya apakah akan terjadi sesuatu jika mereka pergi. Kyung-hee yakin itu, Seorang wanita dan pria dalam ruangan tertutup. Apa kau tak ingat malam pertama kita? Itu begitu menggairahkan.
Kyung-hee manja pada suaminya, kedua anak mereka kemudian meminta coklat panas. Suami Kyung-hee akan membelikan, Kyung-hee pun memanggilnya dia juga mau coklat panas ucapnya sambil manja menirukan suara anaknya.






Seung-hee menutup matanya, Wan-han mendekat tapi bukan untuk menciumnya. Wan-ha menepuk punggung Seung-hee yang sedang kembung, Wan-ha menyuruh Seung-hee sabar karena apotek tak ada yang buka. Wan-ha mengambil jarum, Seung-hee melihatnya langsung tutup mata dan berteriak padahal jarum itu belum menusuknya. Seung-hee menolak tapi Wan-ha memaksa karena akan menjadi lebih baik nanti.
Seung-hee menutup mata sambil takut, Wan-ha menatap wajah Seung-hee lucu. Kemudian dia memberanikan diri mengecup bibir Seung-hee, Seung-hee terkejut. Dia membuka mata, Wan-ha meminta maaf karena dia mabuk. Wan-ha langsung menusukkan jarumnya pada Seung-hee, karena Seung-hee masih bengong karena kejadian tadi, ia tak sadar dan tak berteriak.
~~~




Jong-dae berangkat kerja seperti biasanya, Seung-hee sudah berdiri di dekat pintu masuk perusahaan. Mereka melihat satu sama lain dengan malas, Jong-dae menghampirinya dan mengatakan kalau dia menyuruh Seung-hee untuk datang dua minggu lagi tapi hari ini dia sudah datang. Apa kau masih menyukaiku?
Seung-hee mengatai Jong-dae, aku sudah punya pacar. Jong-dae mengejek Seung-hee, jangan berbohong hanya untuk menutupi wajahnya. Seung-hee meyakinkan, pacarnya orang yang hebat dia....
“Siapa? Dia siapa?” tanya Jong-dae. Seung-hee bingung, dia akhirnya hanya mengatakan kalau pacarnya adalah orang yang kuat dan tampan. Jong-dae penasaran kenapa Seung-hee ada disana. Seung-hee mengatakan kalau dia sedang membantu juniornya. Jong-dae tak percaya itu, Seung-hee meyakinkan. Jong-dae tetap tak percaya, dimana? Dimana dia? Ayo kita lihat wajahnya?
Tiba-tiba Junior Seung-hee sekaligus temannya, Jin-joo keluar dari balik punggung Seung-hee dan menyapa Seung-hee lalu berjalan melewatinya. Seung-hee menunjuk Jin-joo sedangkan Jong-dae masih agak heran kenapa dibelakang Seung-hee bisa ada orangnya, ternyata di belakang Seung-hee berdiri adalah lift.


Jin-joo mengambil gaji penganggurannya dengan agak khawatir, mungkin kalau-kalau dia tidak memenuhi syarat.




Seung-hee menunggu Jin-joo dan duduk disamping dua orang ahjussi yang sedang berbincang. Ahjussi bertanya pada ahjussi gendut, apa pekerjaanya. Dia menjawab kalau dia tak memiliki pekerjaan. Ahjussi menyuruh dia untuk segera mencari pekerjaan dan berhenti mengambil gaji pengangguran. Ahjussi gendut mengatakan kalau dia dipenjara jadi tak bisa mendapat pekerjaan.
Seung-hee yang sedari tadi mendengarkan perbincangan jadi terkejut, apalagi ketika ahjussi gendut menatapnya. Seung-hee langsung menunduk dalam dalam.



Jong-dae memperhatikan Seung-hee yang tengah mendengarkan perbincangan ahjussi sambil terus mencatat sesuatu, mungkin bahan untuk drama. Seon-tae memberitahu Jong-dae kalau mungkin ahjussi gendut yang disana tak bisa mendapatkan pekerjaan. Seon-tae menjelaskan kalau ahjussi yang di tengah itu adalah mantan narapidana yang baru saja di bebaskan dan sekarang di Paket Pekerjaan Sukses tapi sepertinya di tak memiliki kesempatan untuk bekerja. Seon-tae mendengar kalau ahjussi itu memiliki skandal beberapa tahun yang lalu. Jong-dae penasaran, skandal apa?
“Aku tidak tahu pasti, tapi yah. Penipuan, pencurian, penculikan, dan perampokan. Dan aku rasa dia punya gangguan seksual juga!” Tebak Seon-tae. Jong-dae mendengar itu jadi khawatir, dia menengok kearah tempat duduk. Seung-hee dan ahjussi gendut sudah tak ada disana lagi.


Jong-dae khawatir dengan Seung-hee lalu membuka file Seung-hee dan menelfon nomor yang tercatat disana. Jong-dae menanyakan keberadaan Seung-hee, Seung-hee heran kenapa dengannya, dia sedang minum kopi diruang bawah tanah. Jong-dae tanya, apa kau bersama dengan ahjussi gendut?
Seung-hee membenarkan, kemudian terdengar suara teriakan. Jong-dae terkejut jadi panik.





Jong-dae berlari menuruni tanggan, disana di melihat ahjussi besar tengah memegang tas Seung-hee dan lagi Seung-hee terlihat tengah membungkuk. Jong-dae segera berlari dan menangkap punggung ahjussi gendut. Dia berusaha menjatuhkan ahjussi besar itu sekuat tenaga, Dasar bajingan! Beraninya kau... Pada Seung Hee-ku!
Sekuat tenaga Jong-dae menjatuhkan pria besar itu, tapi hanya dengan sikutan didada Jong-dae membuatnya langsung terlontar ke tanah.





Seung-hee hanya melongo melihat tingkah Jong-dae. Seung-hee mendekat kearah ahjussi gendut dan menanyakan apakah ahjussi itu baik-baik saja. Ahjussi tak apa. Seung-hee marah dan mendekati Jong-dae yang masih jatuh di lantai.
“Dia hanya memegang tasku karena aku menumpahkan kopiku! Bagaimana kau bisa menyerangnya tanpa tahu yang sedang terjadi?” bentak Seung-hee. Seung-hee kembali pada ahjussi dan menanyakan apa benar baik baik saja. Ahjussi tak apa, Jong-dae mendekatinya. Seung-hee menyuruh Jong-dae meminta maaf. Mereka saling memaafkan dan masalah selesai.
Namun tiba-tiba suara sirine polisi berbunyi, mereka bertiga terkejut.
“Itu benar. Aku menelepon polisi ketika mau kesini.” Jong-dae menyesal.



Seung-hee menjelaskan kalau itu bukanlah hal besar, hanya kesalah pahaman. Polisi tak percaya, karena ahjussi gendut sudah memiliki banyak pelanggaran di catatannya maka mereka tidak mengabaikan itu.
“Tapi mencurigai mantan kriminal bukankah itu pelanggaran hak asasi manusia? Kami semua sudah bilang itu kesalahpahaman.” Jong-dae mencoba membelas ahjussi. Polisi malah meremehkan Jong-dae, dia mengira kalau Jong-dae malu kalau dia di serang oleh pria. Polisi mengatakan kalau semua itu tanggung jawabnya maka dia akan mengurusnya. Jong-dae kembali meyakinkan tapi polisi tetap tak percaya dan menyuruh Seung-hee dan ahjussi gendut untuk duduk disana. Dia akan mengintrigasi Jong-dae.



Seung-hee duduk bersama dengan ahjussi, dia tanya apakah ahjussi merasa kalau dia dituduh. Ahjussi meng-iya-kan tapi itu sudah pernah terjadi, jadi ia baik-baik saja. Seung-hee heran, apakah ahjussi pernah dituduh?
“Itulah bagaimana aku menjadi mantan narapidana.”




[FLASHBACK]
Ahjussi tengah berjalan dilorong-lorong, seorang pria mabuk dan menarik Ahjussi kebelakang. Dia kesal dan mengibaskan punggungnya dan membuat pria tadi terpelanting. Pria mabuk kembali menarik ahjussi, ahjussi mengatakan kalau dia tak suka berkelahi jadi jangan mengganggunya. Ahjussi kembali mengibaskan punggungnya walhasil pria tadi kembali terlempar.
Ahjussi berakhir dipenjara karena kasus tersebut.
Karena aku begitu kuat. Jika aku berbalik tiba-tiba, orang lain akan terpental.  Jelas Ahjussi pada Seung-hee.



Ahjussi tengah berada di pemberhentian bus, seorang wanita berjalan lalu terpeleset. Ahjussi membantu menariknya namun saking kuatnya dia malah merobek baju si wanita itu, dan memperlihatkan bra’nya. Wanita terkejut dan sangat marah.
Aku hanya mencoba membantu dan Aku nyaris tidak menyentuh blusnya, tapi itu robek dan aku ditangkap karena pelecehan seksual. Jelasnya lagi.
[FLASHBACK END]



Ahjussi sedih, dia tak ingin menyalahkan siapapu. Semua ini hanya karena ia pria besar. Seung-hee merasa iba, semua orang terlalu berlebihan. Sebuah panggilan masuk, dari Wan-ha dan sekarang dia baru mengingat kalau mereka ada makan siang.



Seung-hee mengangkat panggilan itu, Wan-ha tanya apakah Seung-hee terjebak macet. Seung-hee tergagap, dia lalu pura-pura batuk dan mengatakan kalau dia sedang sakit. Wan-ha khawatir, apakah dia harus menemui Seung-hee. Seung-hee melarang, dia dirumah sakit jadi nanti dia akan baikan setelahnya. Wan-ha tanya, dirumah sakit mana. Seung-hee menyuruh Wan-ha tak usah khawatir, dia bisa melakukannya sendiri.
“Hei Petugas! Keluarkan aku dari sini?” teriak salah seorang penghuni sel pada petugas. Seung-hee langsung kebingungan. Wan-ha tanya apakah Seung-hee benar-benar di rumah sakit.




Polisi kembali mengintrogasi ahjussi gendut.
Seung-hee duduk bersama dengan Jong-dae, Seung-hee ingin mengatakan sesuatu pada Jong-dae mengenai pacaranya. Tapi Jong-dae menolak,
“Lupakan saja. Apa pentingnya itu buatku? Sepertinya kau keliru karena aku yang melepaskanmu sebelumnya. Aku tidak tertarik padamu. Jadi itu berarti... Aku tidak mau tahu siapa pacarmu.” Tolak Jong-dae. Seung-hee mengurungkan niatnya, aku tahu.



Wan-ha sampai ke kantor polisi, dia melihat Jong-dae yang tertunduk. Ketika mendongak Jong-dae agak terkejut, Apa yang membawamu kemari?
“Kau ada di sini juga?” tanya Wan-ha lalu melihat Seung-hee. Jong-dae menyadari sesuatu, dia melihat kearah Seung-hee dan membuat Seung-hee segera menunduk.
“Kau pacar Seung-hee?” tanya Jong-dae terkejut.
*** 

1 Response to "Sinopsis Unemployed Romance Episode 8-1"

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^